Musibah datang tanpa kehendak kita, kehancuran akibat bencana alam bukan kehendak kita. Begitu juga kemiskinan mendadak akibat bencana yang melanda juga bukan kehendak kita. Berbagai bencana yang terjadi di mana saja hakikatnya adalah musibah kemanusiaan, baik untuk bangsa kita sendiri maupun bangsa-bangsa lain di dunia.

Karena itu ketika suatu daerah ditimpa bencana seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, badai yang merusak berbagai fasilitas apalagi menelan korban manusia, maka getaran kepiluan dan kepedihan melihat jasad-jasad kaku terbakar hangus, tertimpa bangunan, terasa menyeluruh pada setiap orang yang mendengar dan menyaksikan. Empati dan simpati terbangun seketika. Terwujud rasa kepedulian yang luar biasa dari setiap orang. Semua bergegas memberikan bantuan, baik moril maupun dengan materi.

Kondisi di atas merupakan salah satu sisi kemanusiaan yang positif sehingga perlu terus dijaga dan dikembangkan, bukan hanya pada waktu terjadi bencana, akan tetapi harus melekat menjadi karakter yang melekat pada setiap diri manusia. Manusia menjadi makhluk yang saling mengasihi, menyayangi, saling membantu, dan saling menghargai. Bukan saling menjegal, saling memfitnah, saling melukai, bahkan saling membunuh.

Barang siapa saja yang membunuh seseorang sama dengan membunuh seluruh manusia. Sebaliknya siapa saja yang menyebabkan kehidupan seseorang sama dengan menghidupkan semua manusia. Diantara orang yang peduli dengan musibah adalah orang-orang yang ingin menjadi relawan untuk menolong orang-orang yang sedang kena bencana. Kami meyakini, hanya dengan saling memberikan kepedulian, masalah kesulitan akan bisa diselesaikan.

Tanpa kepedulian, maka manusia akan sempit dengan kesendiriannya, sekalipun dalam kemewahan